payung kuning di halte lama
Hujan turun tiba–tiba sore itu, seolah langit sedang kesal entah pada siapa. Rani menepi ke halte tua dekat pasar, tempat yang sejak kecil selalu ia lewati tapi jarang ia perhatikan. Catnya sudah mengelupas, bangkunya miring sedikit, dan tempelan iklan pengobatan alternatif menutupi hampir seluruh dinding. Tapi setidaknya kering itu sudah cukup. Saat ia sedang mengibaskan ujung seragam kerjanya yang basah, seseorang ikut berteduh. Lelaki itu membawa payung kuning kecil dengan gagang kayu yang sudah kusam. Payung itu terlihat… aneh. Kecil sekali. Seperti punya anak-anak. Rani melirik, tapi buru-buru memalingkan wajah agar tidak terlihat kepo. “Payungnya lucu,” katanya akhirnya, karena diam-diam ia memang penasaran. Lelaki itu terkekeh pelan. “Warisan keponakan saya. Dulu dia selalu minta saya anter jemput sekolah pakai payung ini. Sekarang dia sudah SMP, dan saya masih saja terbiasa bawa yang ini.” Rani mengangguk sambil tersenyum kecil. Ada sesuatu yang hangat di nada bicara lelaki itu...