payung kuning di halte lama
Hujan turun tiba–tiba sore itu, seolah langit sedang kesal entah pada siapa. Rani menepi ke halte tua dekat pasar, tempat yang sejak kecil selalu ia lewati tapi jarang ia perhatikan.
Catnya sudah mengelupas, bangkunya miring sedikit, dan tempelan iklan pengobatan alternatif menutupi hampir seluruh dinding. Tapi setidaknya kering itu sudah cukup.
Saat ia sedang mengibaskan ujung seragam kerjanya yang basah, seseorang ikut berteduh. Lelaki itu membawa payung kuning kecil dengan gagang kayu yang sudah kusam. Payung itu terlihat… aneh. Kecil sekali. Seperti punya anak-anak.
Rani melirik, tapi buru-buru memalingkan wajah agar tidak terlihat kepo.
“Payungnya lucu,” katanya akhirnya, karena diam-diam ia memang penasaran.
Lelaki itu terkekeh pelan. “Warisan keponakan saya. Dulu dia selalu minta saya anter jemput sekolah pakai payung ini. Sekarang dia sudah SMP, dan saya masih saja terbiasa bawa yang ini.”
Rani mengangguk sambil tersenyum kecil. Ada sesuatu yang hangat di nada bicara lelaki itu sesuatu yang mengingatkan pada rumah.
“Jadi Mas memang suka nyimpen barang lama?” tanyanya.
“Kalau ada kenangannya, kenapa tidak?” jawab lelaki itu. “Halte ini juga sebenarnya bikin kangen. Dulu saya sering nunggu di sini waktu masih sekolah.”
Rani menatap bangku tua itu lagi. “Sama. Aku juga dulu duduk di sini sambil nunggu pulang dijemput.”
Keduanya tertawa kecil, entah karena kebetulan atau karena hujan memang selalu berhasil membuat orang lebih jujur.
Beberapa menit berlalu hanya dengan suara hujan yang jatuh di atap seng. Tidak canggung, tapi justru menenangkan.
Tiba-tiba lelaki itu memiringkan payung kuningnya ke arah Rani. “Kalau kamu mau, mari pulang bareng. Nggak jauh kok, saya juga jalan ke arah selatan.”
Rani menatap payung itu, kecil sekali bahkan untuk satu orang pun sebenarnya mepet.
“Tapi payungnya…”
“Ya, kita bakal tetap kehujanan. Tapi setengahnya saja. Setengah bareng-bareng lebih enak daripada basah sendirian.”
Untuk alasan yang sulit ia jelaskan, kalimat itu membuat dada Rani terasa hangat. Ia mengangguk, menurunkan tasnya, dan berdiri di samping lelaki itu.
Mereka berjalan pelan, berdesakan di bawah payung kecil yang goyah tertiup angin. Sesekali bahu mereka saling bersentuhan, dan hujan yang tersisa di luar sana tiba-tiba tidak terasa terlalu dingin lagi.
Sejak sore itu, Rani tidak pernah melihat halte tua dengan cara yang sama. Bukan lagi tempat menunggu, tapi tempat cerita baru dimulai—sesederhana payung kuning kecil yang tetap bertahan meski hujan berubah-ubah.
Komentar
Posting Komentar